Warta Jember

 
 
 
 
 
 
Anda membaca : Pendidikan Dianggap ‘Mbalelo’, 21 Siswa SDN 05 Glundengan Disangsi Ala Militer

Dianggap ‘Mbalelo’, 21 Siswa SDN 05 Glundengan Disangsi Ala Militer

Email Cetak

SDN 05 Glundengan, Kecamatan Wuluhan. (nunk/ wj.com)wartajember.com - Mungkin dianggap terlambat atau tak mengindahkan anjuran guru, 21 siswa kelas 6a SDN 05 Glundengan, Wuluhan harus menjalani hukuman dengan dijemur di bawah terik matahari di halaman sekolah selama beberapa jam. Tak hanya itu, kaki mereka juga harus menerima pukulan dari sang guru menggunakan gagang sapu lantai. Akibatnya, luka memar yang merah membiru membekas di kaki ke 21 siswa tersebut.

Dari penuturan Siswi (nama samara red.), salah seorang siswa kelas 6a SDN 05 Glundengan, Wuluhan yang sempat ditemui wartawan, peristiwa itu terjadi pada Senin (5/2) lalu. Saat jam pulang sekolah tiba, semua siswa kelas 6a tidak bisa langsung pulang. Karena masih harus mengikuti pelajaran tambahan dari salah seorang guru. “Bu Juwariah, seorang guru kelas,” jawab Siswi saat ditanya wartawan di rumahnya, Jum’at (08/2/2013).

Namun, saat 21 siswa kelas 6a sudah berkumpul dan siap mengikuti pelajaran tambahan, sang guru yang bernama Juwariah tidak terlihat datang. Dalam pengakuaannya, Siswi dan teman-temannya cukup lama menunggu sang guru, hingga bersama-sama memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. “Untuk makan dan mandi dulu. Setelah itu ke sekolah lagi,” jawab Siswi lagi sambil didampingi wali muridnya.

Ternyata, sekembalinya para siswa ke sekolah, justru mereka mendapatkan semprotan kemarahan dari sang guru. Kemarahan itupun diterima oleh para siswa, dan dianggapnya sebuah kesalahan yang harus mereka terima.

Ternyata, keesokan harinya, Selasa (6/2/2013) 21 siswa kelas 6a dikumpulkan di halaman sekolah oleh guru yang bersangkutan. Beberapa jam lamanya, 21 siswa tersebut dijemur di bawah terik matahari sebagai hukuman atas kejadian pada Senin kemarin. “Saya tidak tahu pasti, pokoknya cukup lama,” tambah Siswi yang terlihat lebih banyak menunduk itu.

Rupanya, sang guru masih belum puas telah memberi hukuman seperti itu, berlanjut dengan menggunakan gagang sapu lantai, satu persatu kaki ke 21 siswa dipukulnya. Karuan saja, pukulan itu menyisakan sakit dan bekas memar yang merah membiru di setiap kaki anak didiknya. Bahkan, saat Siswi ditemui di rumahnya pada Jum’at kemarin, bekas memar di kakinya masih nampak jelas terlihat. “Ya sakit Pak,” imbuh Siswi sambil menunjukkan luka memar di kakinya.

Konfirmasi akhirnya terputus, saat Siswi beranjak dari tempat duduk dan berlari kekamarnya. Diketahui, ternyata Siswi ketakutan setelah memberi informasi itu ke wartawan. Bahkan dibenarkan oleh wali muridnya, kalau Siswi menjadi ketakutan setelah menyampaikan informasi tersebut. Hal itu dikarenakan, ada anjuran yang bersifat doktrin pada para siswa maupun orang tua siswa agar tidak membocorkan permasalahan tersebut kepada siapanpun termasuk wartawan.

Terbentur hari Jum’at, konfirmasi lanjutan ke pihak sekolah masih belum bisa dilakukan. Saat no 081249081xxx yang diduga kuat milik Kepala Sekolah SDN 05 Glundengan dihubungi, sempat terjadi kontak. Namun saat menyebutkan dari wartawan yang hendak melakukan konfirmasi, kontak langsung terputus. Dihubungi kembali, bahkan hingga beberapa kali, ‘nada nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif’, alias dimatikan.

Sementara itu, Ismail selaku Kepala UPTD Pendidikan Wuluhan, saat dihubungi wartawan terkait permasalahn tersebut pada Rabu lalu, mengatakan akan segera menindaklanjuti permasalahan tersebut. “Akan segera kita lakukan cek and ricek ke sekolah tersebut. Kalaupun benar, akan kita lakukan pemanggilan pada guru yang bersangkutan,” katanya.

Informasi yang didapat dari salah satu orang tua siswa, menjelaskan bahwa pada Jum’at pagi (8/2/2013), pihak sekolah mengundang semua orang tua ke 21 siswa kelas 6a ke sekolah.

Dalam pertemuan itu, menurut sumber informasi, Juwariah, guru yang menjadi cikal bakal munculnya konflik ini sempat meminta maaf pada semua orang tua ke 21 siswa yang telah dijadikan ajang pelampiasan kemarahannya. “Bu guru (Juwariah red) juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,” kata sumber informasi yang wanti-wanti agar namanya tidak dikorankan, dengan alasan takut kalau akan berdampak pada anaknya saat berada di sekolah.

Sepertinya, konfirmasi wartawan ke Kepala UPTD pada Rabu lalu langsung ditindaklanjuti. Hingga hingga pihak sekolah mengundang para orang tua murid kelas 6a pada Jum’at pagi.

Beberapa praktisi dan pengamat pendidikan yang enggan namanya dimunculkan dengan alasan jenuh melihat kenyataan yang terjadi. Dalam nada tanya, terucap juga  ungkapan mereka. “Kok masih ada saja, menghukum siswa dengan cara seperti itu,” katanya.

Langkah pihak sekolah yang mengundang para orang tua dan meminta maaf itupun diyakini setelah mendapat teguran dari orang yang memiliki kewenangan di atasnya. “Saya yakin, tindakan itu tidak dari pemahaman dan kesadaran kalau pihaknya (sekolah red) telah melakukan sebuah kesalahan,” tambahnya.

Terbukti, masih ada doktrin yang sifatnya melarang siswa dan orang tuanya untuk tidak membocorkan masalah tersebut pada orang lain termasuk pada wartawan. “Wis ndak jamane, nggawe coro ngunu iku Mas (Sudah bukan jamannya pakai cara seperti itu Mas),” pungkasnya.